FORMAQIN Belajar dari Tazakka: Wakaf Produktif untuk Kemandirian Pesantren

FORMAQIN Belajar dari Tazakka: Wakaf Produktif untuk Kemandirian Pesantren

BATANG — Forum Ma’ahid dan Madaris Al-Qur’an Indonesia (FORMAQIN) menginisiasi kegiatan silaturahim dan rihlah ilmi ke Pondok Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah, pada Senin (19/10/2026). Kegiatan ini diikuti perwakilan anggota dari berbagai lembaga pendidikan Islam untuk memperluas wawasan mengenai pengelolaan pesantren dan penguatan kemandirian ekonomi berbasis wakaf produktif.

Rombongan diterima oleh pimpinan, pengasuh, dan jajaran Pondok Modern Tazakka di Aula Rabithah. Sejumlah lembaga yang turut serta antara lain Ma’had Isy Karima, Salman Alfarisi Group, PPTQ Ibnu Abbas Klaten, Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu (PM3), Al Azhar International Islamic Boarding School (AIIBS), Pondok Pesantren Darul Fitroh, dan Pondok Pesantren Arrosyid.

Dalam pertemuan tersebut, Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Kiai Anang Rikza Masyhadi, memaparkan pengalaman Tazakka dalam mengembangkan kemandirian ekonomi melalui wakaf produktif, pengelolaan unit usaha secara profesional, digitalisasi transaksi, serta kaderisasi sumber daya manusia (SDM).

Salah satu model yang diperkenalkan ialah pengelolaan unit usaha melalui perusahaan induk berbasis wakaf, PT Tazko Indonesia Berkah. Menurut pemaparan Kiai Anang Rikza, unit usaha tersebut telah berkontribusi sekitar 22 persen terhadap total biaya operasional pesantren. Penerapan sistem transaksi nontunai (cashless) juga disebut mampu meningkatkan perputaran ekonomi pondok hingga 270 persen.

Diskusi turut mengulas enam instrumen pembiayaan pesantren, yaitu swadana santri, zakat, infak dan sedekah (ZIS), wakaf, ekonomi produktif, hibah, serta pinjaman. Kiai Anang Rikza menekankan pentingnya memperkuat sumber pendanaan agar kebutuhan pengembangan pendidikan, sarana-prasarana, dan kaderisasi tidak sepenuhnya dibebankan pada biaya pendidikan santri.

Selain itu, peserta mendalami pentingnya tata kelola kelembagaan yang profesional, pemetaan kebutuhan kader berdasarkan proyeksi jangka panjang, serta pengelolaan wakaf yang terstruktur dan berkelanjutan. Wakaf produktif dipandang sebagai salah satu instrumen strategis untuk mengintegrasikan pengembangan usaha dengan keberlangsungan pendidikan dan dakwah.

Kegiatan rihlah ilmi ini juga membuka ruang pertukaran pengalaman dan peluang kolaborasi antarpesantren. Sejumlah bidang yang mengemuka meliputi pengembangan produk herbal, garmen dan batik santri, layanan kesehatan, serta pengadaan logistik bersama.

Melalui kegiatan ini, FORMAQIN mendorong penguatan sinergi antaranggota dalam mengoptimalkan potensi ekonomi pesantren. Pengalaman Pondok Modern Tazakka diharapkan menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan Islam untuk mengembangkan model kemandirian yang sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan masing-masing.

Kemandirian ekonomi bukan sekadar upaya meningkatkan pendapatan, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga keberlanjutan pendidikan dan dakwah. Dengan pengelolaan wakaf yang amanah, tata kelola profesional, dan kolaborasi antarlembaga, pesantren diharapkan semakin berdaya dalam menjalankan peran strategisnya bagi umat.